Menciptakan Ekosistem yang Mengayomi Petani Muda Masa Depan

Dunia Tani
Kondisi-kondisi di atas membuat pertanian dan perkebunan menjadi tidak menarik bagi generasi muda. Ironi ini semakin menjadi ketika para lulusan sarjana pertanian sering kali beralih ke karier lain, seperti akuntansi dan perbankan, yang dianggap lebih menguntungkan.

Oleh karena itu, jelaslah bahwa jalan untuk mendorong regenerasi terletak pada revitalisasi status quo ekosistem pertanian saat ini. Revitalisasi sistem harus dibuat ramah terhadap generasi muda; memenuhi tuntutan dan kebutuhan generasi muda saat ini untuk bertahan dan berkembang di dalam sektor pertanian.

Hal ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa ciri utama generasi muda saat ini-para Gen Z, yaitu: work-life balance, generasi digital, dan empati sosial global.

Terlahir di tengah gejolak ekonomi, Gen Z atau Zoomers mendambakan keamanan dalam karier mereka. Mereka tidak hanya ingin mencapai kepuasan, tetapi juga stabilitas dalam pekerjaan mereka.

Namun, dalam melakukannya, mereka juga perlu memegang kendali, tidak dibatasi, dan diberikan fleksibilitas untuk memaksimalkan potensi mereka. Dengan kata lain, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance merupakan hal yang penting bagi Gen Z.

Oleh karena itu, transformasi ekosistem pertanian saat ini perlu memperhatikan lebih banyak insentif dan kesejahteraan bagi para petani yang masih menjadi masalah saat ini, serta tidak terlalu padat karya dalam prosesnya. Untungnya, peluang untuk menyelesaikan masalah ini terletak pada karakteristik kedua dari
Zoomers.

Sama seperti generasi Milenial, Gen Z adalah penduduk asli dari era teknologi dan digitalisasi yang berkembang pesat. Penguasaan teknologi telah menjadi suatu keharusan bagi mereka untuk berkembang di dunia saat ini.

Hal ini kemudian memunculkan pemikiran bahwa memilih berkarier di bidang pertanian yang stagnan, "tidak berpendidikan", dan "berketerampilan rendah" merupakan tindakan yang regresif di zaman ini. Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) benar-benar diterapkan pada sektor pertanian, seperti di Jepang; bagaimana negara ini berhasil mengintensifkan industri pertaniannya dengan lahan yang terbatas.

Oleh karena itu, regenerasi yang sukses juga bergantung pada mengakomodasi bakat-bakat pertanian dengan pelatihan yang tepat dan insentif untuk penerapan teknologi. Hasilnya tidak hanya membuat pertanian tidak terlalu menuntut fisik, tetapi juga meningkatkan kualitas hasil panen; sehingga produk yang dihasilkan lebih kompetitif di pasar.

Tumbuh di era informasi juga membuat Gen Z lebih mudah menerima isu-isu etika di seluruh dunia. Krisis iklim dan ketidaksetaraan yang meluas membuat Zoomers lebih berhati-hati dalam bertindak.

Segala perilaku, baik konsumsi atau pilihan karier, harus mengarah pada keberlanjutan; termasuk dalam memilih makanan. Kesadaran ini adalah modalitas yang
dapat dimanfaatkan untuk memulai praktik pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Lantas, insentif yang lebih besar dalam penggunaan input pertanian organik dan promosi praktik produksi ramah lingkungan, serta praktik-praktik yang tahan terhadap perubahan iklim dapat menambah faktor daya tarik generasi muda terhadap sektor pertanian.

Di atas itu semua, revitalisasi dan reformasi sektor pertanian harus dilakukan secara paralel dengan perubahan pola pikir masyarakat. Pertanian tidak boleh lagi digambarkan sebagai pekerjaan yang kotor, melelahkan, dan tidak memuaskan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berpendidikan dan tua.

Narasi tersebut harus diubah untuk membingkai pertanian sebagai sektor yang penting untuk keberlanjutan; sebuah karier di mana inovasi disambut
baik dan kesejahteraan terjamin. Dalam hal ini, institusi pendidikan memainkan peran penting untuk menghapus stigma negatif seputar pertanian.

Post a Comment

Previous Post Next Post