Aksi Kolaboratif untuk Mencapai Regenerasi yang Berkelanjutan - Mewujudkan ekosistem yang ideal tentu saja bukan hal yang mudah. Untungnya, beberapa langkah telah diambil untuk menuju ke arah tersebut.
Kementerian Pertanian telah terlibat dalam beberapa program untuk mendorong pertumbuhan petani muda, seperti melalui Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YeSS) dan turunannya seperti Young Ambassador Agriculture, yang memberikan pelatihan dan pendanaan yang tepat bagi calon
petani untuk memulai usaha mereka.
Program-program tambahan untuk mendukung bagian lain dari ekosistem ini juga telah diberlakukan, seperti Taxi Alsistan, yang bertujuan untuk memperluas proses mekanisasi dengan mempermudah akses ke peralatan pertanian bagi para petani. Pinjaman yang disponsori negara tanpa bunga juga telah diberikan untuk membantu petani membiayai ladang mereka dengan inisiatif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian.
Namun, masih banyak yang harus dilakukan. Tindakan di masa depan harus bersifat kolaboratif untuk mengatasi masalah regenerasi yang memiliki banyak sisi, dengan melibatkan pembuat kebijakan, sektor swasta, dan masyarakat dalam prosesnya.
Dengan demikian, adanya kebijakan dan ruang yang dapat memungkinkan penciptaan sinergi dan komunikasi lintas-aktor menjadi langkah awal dalam pewujudan pertanian berkelanjutan. Sebagai contoh, terlepas dari peluang dan modalitas yang telah berkembang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir dengan munculnya perusahaan startup pertanian, jalan menuju pertanian yang intensif teknologi dan digital yang sangat dibutuhkan untuk partisipasi kaum muda tidak dapat dicapai tanpa kerangka kerja regulasi yang komprehensif.
Lantas, tidak dimasukkannya aspek digitalisasi dalam Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2020-2024 merupakan sesuatu yang perlu dievaluasi untuk mendorong lebih banyak investasi swasta dalam inovasi pertanian. Stigma terhadap kesejahteraan petani akan dapat ditepis apabila terdapat akses terhadap
permodalan yang lebih mumpuni.
Meski terdapat mekanisme KUR, sejumlah petani masih merasa kesulitan dalam membiayai praktik pertaniannya. Tidak jarang banyak dari mereka menjadi korban penipuan dan pemerasan dari para rentenir.
Untuk itu, penciptaan ekosistem permodalan tani bauran antara publik-privat perlu digalakan dengan diiringi upaya peningkatan kepercayaan investor terhadap pertanian. Mengubah stigma masyarakat tentang pertanian tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan institusi pendidikan saja.
Kolaborasi dengan media juga penting untuk menarasikan pertanian secara lebih positif kepada khalayak yang lebih luas. Penetrasi ide ke rumah tangga dan pendidikan dini juga sama mendesaknya, yang dapat dilakukan dengan memberdayakan komunitas dan pembuat perubahan lokal yang akan menyebarkan berita ke masyarakat luas.
Pada akhirnya, pertanian berkelanjutan hanya dapat terjadi jika regenerasi itu sendiri berkelanjutan. Memastikan aliran tenaga kerja yang stabil dan ketersediaan talenta yang aman lintas-generasi adalah kuncinya.
Dengan kata lain, membangun narasi dan ekosistem mumpuni untuk menjadikan pertanian sebagai pilihan karir yang bonafide, tidak hanya untuk Gen Z, tetapi juga untuk Generasi Alfa yang akan datang dan seterusnya.
Kondisi ideal seperti ini hanya dapat dibangun melalui tindakan kolaboratif dan terpadu yang ditujukan untuk secara kontinu menyesuaikan kondisi ekosistem pertanian dengan tuntutan dan kebutuhan masa depan yang terus berubah.
